Founder of Ashadi's (Al Ashadi ALimin) Trends Social Media Hotline: +6289693906063

Pengertian Pemerolehan Bahasa

Pengertian Pemerolehan Bahasa

Harimurti Kridalaksana (1982:123) mengatakan, “Pemerolehan bahasa sebagai proses pemahaman dan penghasilan bahasa pada manusia melalui beberapa tahap mulai dari maraban sampai kefasihan penuh. Selanjutnya, Kiparsky (1968) dalam Tarigan, (1985 : 243) menjelaskan bahwa pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis yang semakin rumit, ataupun teori-teori yang masih terpendam atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi dengan ucapan-upacan orang tuanya sampai dia memilih berdasarkan ukuran atau takaran penilaian tatabahasa yang paling baik serta yang paling sederhana dari bahasa tersebut.
Penggunaan istilah “pemerolehan bahasa” sebagai padanan dari “language acquisition” dalam bahasa Inggris sudah umum digunakan dalam bahasa Indonesia. Walaupun untuk pengertian yang sama, dipakai juga istilah lain misalnya “perolehan bahasa” (Lihat Pateda, 1990 : 42 : Depdikbud. 1982 : 4). Namun, ketiga istilah ini mengacu pada konsep atau pengertian yang sama, yaitu sebagaimana yang diungkapkan oleh Kridalaksana dan Kiparsky.
Menurut McNeill (1966) ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pemerolehan bahasa. Ketiga hal itu ialah (1) data data linguistik primer; (2) alat pemerolehan bahasa atau Language Acquisition Device (LAD); dan (3) kemampuan berbahasa (Isman 1979: 21). Data linguistik primer adalah semua masukan atau input yang berupa tuuran yang didengar oleh anak-anak dari orang-orang di lingkungannya. Dengan kata lain data linguistik primer mennjadi masukan (input) untuk diolah alat pemerolehan bahasa (LAD). Hasil olahan LAD ini ialah kemampuan berbahasa sebagai keluaran (output). Secara sederhana Mc. Neill menggambarkan proses pemerolehan sebagai berikut:


            Masukan /input                                   Pengolahan/Proses                              Keluaran/Output
1.                            Data Linguistik Primer                        2. Alat pemerolehan bahasa             3. Kemampuan
(LAD) yang dibawa sejak lahir         Berbahasa   Anak

 Proses pemerolehan bahasa yang digambarkan di atas dapat dijelaskan secara berurutan, yaitu (1) Anak memperoleh masukan (input)berupa tuturan (data linguistik primer) yang didengar dari orang-orang di sekitarnya. Masukan yang berupa data linguistik primer itu berfungsi sebagai pengarah perkembangan  bahasa anak selanjutnya. Artinya, apabila masukannya data linguistik primer bahasa Inggris maka keluarannya pun kemampuan berbahasa Inggris; begitu juga apabila masukannya berupa data linguistik bahasa Indonesia, maka keluarannya pun kemampuan berbahasa Indonesia (Rusdiawan, 1987 : 29). (2) Alat Pemerolehan Bahasa (LAD) terdiri dari aspek-aspek dan kaidah bahasa yang universal sifatnya. Dalam hubungan proses pemerolehan di atas, LAD menerima masukan berupa data linguistik primer, kemudian melakukan identifikasi dan pembeda-bedaan terhadap masukan itu. Identifikasi dan diferensiasi menghasilkan penggolongan-penggolongan hubungan ketatabahasaan yang sangat rumit. Dengan demikian LAD berfungsi untuk membentuk gramatika suatu bahasa. Dengan menggunakan input kebahasaan yang ada, LAD akan bekerja dengan membentuk sistem bahasa (language performance) yang apabila diamati berulang-ulang dapat memberikan gambaran tentang kemampuan berbahasa (language competence) anak. Keluaran (output) dalam sistem pemerolehan bahasa sangat dipengaruhi oleh input dan proses atau pengolahan yang terjadi. Karena itu, karakteristik keluaran (output) dapat menggambarkan karakteristik masukan (input) dan tingkah laku proses dari sistem pemerolehan itu.
Dalam proses penguasaan bahasa istilah pemerolehan itu sering dibedakan dengan istilah pembelajaran (learning). Pembedaan ini terutama diajukan oleh Krashen (1982) sehubungan dengan orang dewasa menguasai bahasa kedua (B2). Menurut Krashen (1982:10), ada dua cara yang berbeda dalam mengembangkan dan menguasai B2 bagi orang dewasa, yaitu: Pemerolehan dan pembelajaran. Pemerolehan adalah proses penguasaan B2 melalui bawah sadar dengan cara berkomunikasi langsung dengan orang-orang yang menggunakan bahasa tersebut. Proses ini berlangsung secara alamiah dan diinternalisasi melalui bawah sadar, seperti proses yang dialami oleh anak-anak dalam menguasai bahasa ibunya.
Pembelajaran menurut Krashen diartikan sebagai suatu proses pemilihan tatabahasa yang berlangsung secara sadar sebagai akibat dari pengajaran oleh guru atau sebagai hasil belajar tatabahasa secara mandiri (Huda,1989:33). Penguasaan bahasa melalui pembelajaran adalah hasil pengajaran intensif tentang sistem kaidah yang ada dalam B2 (Abdul-Hamid, 1987:26). Penguasaan B2 dalam lingkungan B2 bisa diperoleh melalui pembelajaran dan pemerolehan (Wibisono, 1990:67). Itulah sebabnya, ditinjau dari cara mendapatnya, penguasaan B2 di lingkungan B2 relatif lebih sempurna bila dibandingkan dengan penguasaan B2 di lingkungan B1 (Abdul-Hamied, 1987:27).
Kemampuan manusia mempelajari bahasa sejak ia masih bayi merupakan ciri penanda yang khas manusia. Dengan kemampuan yang sudah dibawa sejak lahir, seorang anak manusia secara bertahap, berupaya menguasai bahasa yang dipergunakan anggota masyarakat lain yang ada di sekelilingnya.
Dalam berbagai aktivitas manusia, bahasa terbukti sebagai wahana komunikasi yang paling kompleks. Dengan bahasanya, manusia dapat menuturkan hal-hal yang sedang berlangsung, telah terjadi, dan bahkan yang akan terjadi. Meskipun binatang dikenal mempunyai sistem komunikasi, namun kompleksitasnya masih jauh daripada sistem komunikasi manusia. Bahasa merupakan penanda kuat lebih tingginya derajat manusia dibandingkan dengan binatang.
Bahasa harus dipelajari, seorang bayi tidak dilahirkan langsung dapat berbicara. Dengan kemampuan yang dibawanya sejak lahir, ia mencoba prinsip-prinsip bahasa yang dipergunakan oleh orang-orang disekelilingnya. Seakan-akan mengikuti sebuah jadwal biologis, bayi yang baru berumur beberapa bulan berusaha menirukan bunyi-bunyi bibir dan bunyi-bunyi vokal. Selanjutnya, bayi tersebut belajar menggunakan satu kata, rangkaian kata-kata, dan akhirnya membentuk kalimat. Ternyata, bahasa bayi tumbuh dan berkembang dari ucapan-ucapan yang semula jauh berbeda dari bahasa orang dewasa, dan kemudian secara bertahap, bahasa bayi mirip dengan bahasa orang dewasa, dan akhirnya setelah menguasai kaidah-kaidah bahasa yang berlaku di masyarakat bahasa (language), dihasilkanlah ucapan-ucapan yang secara relatif sama dengan bahasa orang dewasa.
Seorang bayi dilahirkan normal, artinya tidak memiliki cacat fisik atau mental, berpotensi untuk menguasai bahasa yang dipergunakan dalam suatu masyarkat, bila bayi tersebut diperkenalkan kepada bahasa masyarakat itu. Bila masyarakat yang bersangkutan mempergunakan bahasa, misalnya bahasa Batak. Bila masyarakat yang bersangkutan adalah penutur dua bahasa atau lebih, maka ketika anak menjadi besar, ia akan menjadi dwibahasawan atau multibahasawan. Seorang bayi akan belajar mengucapkan bahasa atau bahasa-bahasa yang akan dipakai oleh orang-orang disekelilingnya pada usia 18-24 bulan (Ingram 1975; Samsuri, 1985:47; Dulay, Burt, dan Krashen, 1982:13-25).
Dalam kenyataan perkembangan bahasa anak didapatkan bahwa anak menghasilkan ucapan-ucapan yang tidak sama dengan bahasa orang dewasa. Ucapan-ucapan yang dihasilkan anak menunjukkan bahwa ada bunyi-bunyi, pilihan kata, bentukan dan kalimat-kalimat yang dibuat dengan kaidah yang berbeda dengan kaidah orang dewasa.
Pertumbuhan bahasa anak berjalan sejajar dengan pertumbuhan biologis dan kognitifnya. Namun, pertumbuhan itu akan berjalan pesat jika lingkungan anak memungkinkan untuk itu.
Terdapat dua pandangan yang berbeda dengan tentang pertumbungan bahasa anak. Pandangan pertama menyatakan bahwa kekuatan luar sepenuhnya membentuk kemampuan anak. Dalam proses belajar bahasa, anak menirukan saja apa yang didengarnya dari orang disekelilingnya. Jika ternyata anak melakukan kesalahan, orang dewasa di sekitarnya akan membentulkannya;sebaliknya, jika ucapan anak sudah betul, maka orang-orang disekitarnya akan membentulkannya. Begitu seterusnya, sampai anak menguasai kaidah bahasa dan berbahasa yang berlaku dalam masyarakat.
Pandangan lain menolak pendapat di atas. Pandangan kedua ini menyatakan bahwa anak dilahirkan dengan kemampuan belajar bahasa atau bahasa-bahasa apa saja. Kemampuan belajar bahasa itu terjadi ketika sejak lahir telah diperlengkapi (innate) dengan “Alat Pemerolehan Bahasa” atau alat untuk belajar bahasa atau bahasa-bahasa yang dalam bahasa Inggris di sebut dengan istilah Language Acquisition Device (LAD). LAD ini berfungsi sebagai pengolahan masukan bahasa dan memproduksinya kembali menjadi tuturan yang sesuai dengan tingkat perkembangan biologis dan kognitif anak. LAD ini berfungsi sebagai alat mampu menyerap kaidah pemakaian bahasa tanpa disadari anak, dan alat ini pulalah yang mengatur bahasa anak sehingga sesuai dengan tingkat perkembangannya. Karena fungsinya yang demikian itulah alat tersebut dinamakan “alat pengatur-masukan-dan-keluaran-bahasa-bawaan”. Yang oleh Corder (1967) disebut dengan istilah built-in-syllabus.
Perkembangan kemampuan berbahasa anak berjalan seiring dengan perkembangan biologisnya. Beberapa ahli yakin bahwa bahasa anak memiliki penanda tersendiri yang dapat dibedakan dari bahasa orang dewasa. Hal ini dapat disebabkan karena anak berupaya menyerap kaidah bahasa yang berlaku dalam masyarakat bahasa (language) secara bertahap. Dalam proses perkembangan bahasa anak itulah peneliti dapat mengamati bagaimana anak berlatih menggunakan kaidah-kaidah bahasa yang didengarnya dari lingkungan.
Perkembangan bahasa anak berproses menuju sistem bahasa yang berlaku umum, sehingga kaidah bahasa anak belum dapat dikatakan sempurna (approximative system) (Nemser dan Slama-Cazacu, 1970) dan bersifat sebagai kaidah peralihan (transitional construction). Bahasa anak yang demikian itu merupakan hasil dari suatu proses kreatif. Karenanya konstruksi yang dihasilkan disebut dengan istilah konstruksi kreatif (creative construction) (Burt, Dulay, dan Hernandes Ch..1975:11). Bahasa anak-anak semacam itu haruslah dianggap sebagai pertanda bahwa anak-anak sedang dalam proses belajar. Albert  Valdman (1975:215), seorang ahli pengajaran bahasa dari Amerika Serikat, mengatakan: “Errors are not to be viewed as pathological manifestation to be eradicated, but constitute instead the most directed evidence of the learner’s hypotheses and strategies”.
Terlepas dari adanya pandangan yang berbeda-beda tentang bahasa anak, namun bagi kita, kemampuan anak menguasai suatu bahasa dalam waktu yang relatif singkat adalah peristiwa alamiah yang sangat mengagumkan dan menarik untuk diteliti. Hal itu didorong oleh adanya kenyataan-kenyataan seperti berikut ini:
Dalam waktu yang relatif singkat, yakni ketika anak berusia 5 sampai 6 tahun, anak telah sanggup menguasai kaidah-kaidah dasar bahasa (Tucker dan Alison d’Anglejan (1979).
Seorang anak jarang sekali mengulang ucapan orang dewasa secara identik. Bahkan ulangan langsung dari kalimat pendek pun tidak pernah terdapat dalam bahasa anak-anak (Susan-Ervin-M. Trip, 1964).
Seorang anak tampak mampu membuat analogi-analogi dan generalisasi-generalisasi. Hal ini terbukti dari munculnya bentukan-bentukan transisi yang lahir karena anak membuat “hypotesis-hypotesis” dalam upaya menyerap kaidah yang dipelajarinya.
Tiga buah kenyataan diatas merupakan pernyataan bagi ahli psikolinguistik.
Dua dekade yang lalu para peneliti masih beranggapan bahwa belajar bahasa dapat diterangkan dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar keterampilan yang lain (Tucker dan D’Anglejan, 1979). Kenyataannnya, meskipun seorang ibu bersusah payah berulang-ulang melatih anaknya mengucapkan kalimat seperti dicontohkan tetap gagal. Kegagalan itu karena anak belum mencapai usia menguasai kaidah kalimat yang di ucapkan ibunya. Karena itu, ucapan yang dihasilkan tetaplah mengikuti kaidah yang telah dimilikinya.
Munculnya ucapan-ucapan anak yang tergolong kedalam kontruksi peralihan ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan: (1) Apakah hakikat munculnya bentuk-bentuk yang bersifat peralihan itu dalam proses belajar bahasa? (2) Apakah munculnya kontruksi peralihan itu secara kebetulan saja ataukah ajek? Jika konstruksi peralihan itu muncul secara ajek tentunya ada sistem yang mengaturnya. Dapatkah ciri-ciri kebahasaan tuturan anak diberikan secara sistematik sehingga pada gilirannya dapat disusun sebuah tatabahasa anak?

Garet (1975) memandang bentukan-bentukan peralihan yang dibuat anak dari dua sudut pandang. Pertama, Konstruksi peralihan itu dianggap sebagai potret hasil belajar bahasa selama kurun tertentu; Kedua, Konstruksi peralihan itu dapat dijadikan bahan dasar upaya mencari gambaran kompetensi bahasa anak. Itu dapat di capai dengan cara menghubungkan dan mengabstraksikan kontruksi-kontruksi peralihan yang didapatkan dari tuturan lisan anak. Dari tuturan lisan tersebut dapat di lihat apakah terdapat kaidah yang tetap dan nyata. Kemudian, seperti yang dinyatakan oleh Chomsky (1964), “Jika dalam tuturan anak terdapat penggunaan kaidah yang berulang-ulang muncul dan tetap, maka gejala itu dapat dijadikan bukti bagi kompetensi bahasa anak pada tiap-tiap tahap perkembangan bahasa mereka.” 



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Al Ashadi Alimin, Published at Selasa, Mei 26, 2015 and have