Founder of Ashadi's (Al Ashadi ALimin) Trends Social Media Hotline: +6289693906063

PREPOSISI BAHASA MELAYU DIALEK KETAPANG DAN KAITANNYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH (NIA MAYASARI)

PREPOSISI BAHASA MELAYU DIALEK KETAPANG DAN KAITANNYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH (NIA MAYASARI)


POSTED BY: AL ASHADI ALIMIN
BAB 1
PENDAHULUAN
Bab I pendahuluan disajikan gambaran umum penelitian yang terdiri atas: 1) latar belakang, 2) masalah penelitian, 3) tujuan penelitian, dan 4) manfaat penelitian.

1.1  Latar Belakang
Bahasa Melayu Dialek Ketapang (untuk selanjutnya digunakan istilah BMDK) merupakan bahasa yang digunakan masyarakat Melayu Ketapang. BMDK ini satu di antara bahasa daerah yang terdapat di Provinsi Kalimantan Barat. BMDK sampai saat ini pun masih dituturkan oleh masyarakat pemakainya. Terutama, untuk berkomunikasi antara sesama mereka sehari-hari. Selain itu, BMDK juga mempunyai peran dalam upaya pengembangan kebudayaan Melayu Ketapang khususnya dan kebudayaan daerah Ketapang pada umumnya. Misalnya, dalam bidang adat perkawinan (acara) dan jenis makanan di Kabupaten Ketapang.
BMDK dalam perkembangannya suatu saat bisa saja unsur keasliannya memudar seperti bahasa daerah yang lain. Hal ini disebabkan interferensi bahasa Indonesia ke dalam BMDK maupun pengaruh bahasa daerah lainnya yang terdapat di Kabupaten Ketapang. BMDK ini juga mempunyai penutur yang cukup banyak dan BMDK juga diharapkan dapat tersebar luas digunakan untuk memudahkan penduduk penutur bahasa dari daerah lain dalam memahaminya.


1
Kabupaten Ketapang secara geografis memiliki luas wilayah 35.809 km2, yang terdiri dari dua puluh kecamatan yaitu kecamatan Delta Pawan, kecamatan Muara  Pawan, kecamatan Matan Hilir Utara, kecamatan Sungai Laor, kecamatan Simpang Dua, kecamatan Simpang Ulu, kecamatan Nanga Tayap, kecamatan Sandai, kecamatan Ulu Sungai, kecamatan Senahan, kecamatan Tumbang Titi, kecamatan Jelai Ulu, kecamatan Sungai Melayu Rayak, kecamatan Marau, kecamatan Air Upat, kecamatan Singkup, kecamatan Manis Mata, kecamatan Benua Kayong, kecamatan Matan Hilir Selatan, dan kecamatan Kendawangan. Dalam penelitian ini, penulis memfokuskan kecamatan Muara Pawan sebagai tempat pengambilan data.
Kecamatan Muara Pawan merupakan satu di antara kecamatan yang terdapat di kabupaten Ketapang. Pengambilan data pada daerah ini dengan memperhatikan beberapa faktor sebagai berikut. Bahwa bahasa Melayu Ketapang di kecamatan Muara Pawan ini masih alami maksudnya masih jauh dari kontak sosial masyarakat, mobilitas keluar masyarakat di daerah ini juga rendah atau bisa dikatakan  pertemuan antara para penutur dari komunitas lain itu jarang, daerah ini juga masih banyak dijumpai sastra melayu asli masyarakat Melayu Ketapang seperti syair gulung, pantun, cerita lisan  yang biasa digunakan dalam acara adat Melayu Ketapang.     
Kecamatan Muara Pawan memiliki luas wilayah 611 km2. Kecamatan ini memiliki delapan desa, yaitu Desa Sungai Awan Kanan, Desa Sungai Awan Kiri, Desa Tempurukan, Desa Tanjung Pura, Desa Ulak Medang, Desa Mayak, Desa Tanjung Pasar, dan Desa Suka Maju. Mengingat kecamatan Muara Pawan cukup luas, maka peneliti membatasi penelitian di desa Tempurukan. Letak geografis Kecamatan Muara Pawan sebagai berikut: Pertama, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten  Kayong Utara yang sebagian besar masyarakat pemakai tuturan bahasa melayu dialek Sukadana. Kedua, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Delta Pawan, yang sekarang ini sudah banyak percampuran bahasa antara penutur dari daerah luar sehingga tidak diketahui masyarakat penutur aslinya. Ketiga, sebelah barat berbatasan dengan Selat Karimata, berdasarkan informasi yang peneliti peroleh  bahwa sebagian besar masyarakat pemakai tuturan bahasa Bugis dan Dayak. Keempat, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Tumbang Titi, yang sebagian besar masyarakat pemakai tuturan bahasa Dayak Tumbang Titi.
Preposisi merupakan objek dalam penelitian ini karena didasari untuk melanjutkan penelitian-penelitian yang memang pernah dilakukan terhadap BMDK sebelumnya. Harapan dari langkah-langkah penelitian tersebut, dapat digunakan pula oleh peneliti saat ini untuk meneliti preposisi BMDK. Selain itu, pertimbangan linguistik juga menjadi alasan peneliti dalam memilih aspek preposisi ini. Bahwa bentuk preposisi dalam Bahasa Indonesia terbagi atas dua bagian, untuk itu peneliti ingin mengetahui dari segi bentuk preposisi BMDK. Peneliti juga ingin mengetahui fungsi preposisi BMDK, karena fungsi preposisi dalam Bahasa Indonesia ada yang berfungsi sebagai predikat dan keterangan. Peneliti juga ingin mengetahui tentang makna preposisi BMDK dan penerapan preposisi dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah.
Adapun alasan peneliti yang khusus untuk meneliti preposisi dalam penleitian ini karena preposisi ini mempunyai peran untuk memperjelas kalimat, ini dapat dilihat dari contoh kalimat berikut ini: 1) Uma’ pəgi sawah pagi tadi ‘Ibu pergi sawah pagi tadi,’ 2) Bapa’ ngajar səkolah Muhamaddiyah ‘Bapak mengajar sekolah Muhamadiyah,’ dan 3) Bia’ nyan te nəbas rumput aret ‘Anak itu menebas rumput aret.’ Contoh kalimat tersebut harus ditambahkan preposisi karena kalimat yang ada belum jelas atau bisa dikatakan belum lengkap. Kalimat yang telah ditambahkan preposisi ini akan menjadi sebagai berikut: 1a) Uma pegi ke sawah pagi tadi ‘Ibu pergi ke sawah pagi tadi,’ 2a) Bapak ngajar di sekolah Muhamaddiyah, ‘Bapak mengajar di sekolah Muhaddiyah,’ dan 3a) Biak nyan te nebas rumput pakai aret ‘Anak itu menebas rumput dengan aret.’
Berdasarkan informasi yang telah peneliti peroleh dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya oleh mahasiswa di Unit Perpustakan Universitas Tanjungpura Pontianak mengenai Preposisi ialah: 1) Hasmi Yudiarti (1996) dengan judul “Preposisi Bahasa Melayu dialek Sintang, menghasilkan ciri-ciri, bentuk, makna, dan pelaku sintaksis preposisi bahasa melayu dialek sintang; 2) Rini Riyanti (1999) dengan judul “Pemakaian Prepososi Bahasa Melayu dialek Sambas, menghasilkan bentuk, fungsi, dan makna preposisi Bahasa Melayu dialek Sambas; 3) Usman (2002) dengan “judul Preposisi Bahasa Melayu dialek Sekadau menghasilkan ciri-ciri, bentuk, makna preposisi Bahasa Melayu dialek Sekadau; 4) Artisa (2002) dengan judul “Preposisi Bahasa Melayu dialek Kapuas Hulu, menghasilkan bentuk dan makna preposisi Bahasa Melayu dialek Kapuas Hulu; dan 5) Endang Tiana (2006) dengan judul “Preposisi Bahasa Dayak Kanayatn, menghasilkan bentuk, fungsi, makna, dan distribusi preposisi Bahasa Melayu dialek Kanayatn.
Penelitian ini jika dikaitkan dengan bidang pengajaran, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan yang bermanfaat dalam pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah untuk pelajar yang berbahasa ibu BMDK. Pengajaran tersebut terdapat dalam materi KTSP, pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Tingkat SD, yaitu keterampilan menulis. Jika dikaitkan lagi dengan materi bahasa daerah, dapat dijadikan sebagai bahan masukan pada materi palajaran Muatan Lokal (MULOK) siswa.

1.2  Masalah Penelitian
Masalah dalam penelitian ini adalah “Preposisi dalam bahasa Melayu dialek Ketapang”. Masalah umum tersebut peneliti bagi dalam submasalah sebagai berikut.
1.    Bagaimanakah bentuk preposisi bahasa Melayu dialek Ketapang?
2.    Bagaimanakah makna preposisi bahasa Melayu dialek Ketapang?
3.    Bagaimanakah fungsi preposisi bahasa Melayu dialek Ketapang?
4.    Bagaimanakah penerapan preposisi dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah?
1.3  Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan preposisi bahasa Melayu dialek Ketapang. Secara khusus penelitian ini bertujuan sebagai berikut.
1.    Mendeskripsikan bentuk preposisi bahasa Melayu dialek Ketapang.
2.    Mendeskripsikan makna preposisi bahasa Melayu dialek Ketapang.
3.    Mendeskripsikan fungsi preposisi bahasa Melayu dialek Ketapang.
4.    Mendeskripsikan penerapan preposisi dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah.
1.4  Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dapat ditinjau dari dua segi, yaitu manfaat dari segi teoritis dan praktis.
1.4.1  Manfaat secara Teoritis
Penelitian ini secara teoritis bermanfaat untuk menemukan data-data preposisi dalam BMDK, mengetahui data-data tentang preposisi BMDK, dan selanjutnya mengetahui kemiripan preposisi BMDK dengan Bahasa Indonesia.

1.4.2  Manfaat secara Praktis
1)      Bagi masyarakat, dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang bahasa daerah yang terdapat di Kalimantan Barat khususnya tentang preposisi BMDK. 
2)      Bagi pemerintah, dapat mendukung pemerintah dalam upaya mendoku-mentasikan pelestarian bahasa daerah khususnya bahasa Melayu Ketapang tentang preposisi dalam BMDK agar diketahui oleh penutur yang lain.
3)      Bagi guru, dapat dijadikan masukan tenaga pengajar Bahasa Indonesia khususnya materi bahasa daerah sebagai mata pelajaran MULOK (muatan lokal).
4)      Bagi peneliti, dapat menambah wawasan peneliti tentang bahasa, khususnya mengenai preposisi Melayu Ketapang.



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Al Ashadi Alimin, Published at Minggu, Mei 16, 2010 and have