BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan alat yang penting dalam kehidupan manusia. Melalui bahasa peradaban dapat diwariskan. Bahasa dapat diwariskan melalui penggunaan media massa cetak maupun elektronik.
Munculnya media massa saat ini sangat berpengaruh terhadap masyarakat. Media massa telah menyentuh hampir setiap sudut kehidupan karena jangkauan media massa sampai ke pelosok desa. Setiap pagi jutaan orang Indonesia membaca media cetak, seperti koran, tabloid, majalah, dan jutaan orang pula mendengarkan informasi melalui media elektronik, seperti radio dan televisi. Melalui media massa masyarakat dapat memperoleh tambahan ilmu pengetahuan atau informasi baru dalam waktu yang relatif singkat. Media massa merupakan sarana untuk dapat mengungkapkan atau menyampaikan ide. Menurut Mukhaiyar (2002) media massa mempunyai fungsi sebagai berikut:
1.Penyampaian atau penyebaran informasi tentang apa yang mesti diketahui oleh masyarakat luas. Misalnya, informasi tentang cuaca, peristiwa yang terjadi, perkembangan politik, ekonomi, pendidikan, atau kualitas produk.
2.Penyaji hiburan bagi masyarakat luas. Sebagian besar media massa memuat unsur berita atau informasi, humor, dan persuasi (bujukan).
3.Pelaku persuasi kepada masyarakat untuk membentuk opini atas informasi dan interpretasi dari apa yang disampaikan. Hal itu bermakna bahwa berita mencoba menarik perhatian konsumen terhadap suatu produk yang dihasilkan.
4.Penyumbang terhadap kesatuan dan persatuan dalam masyarakat sehingga pertikaian dapat dihindari.
| |
5.Pendidikan. Orang dapat belajar dari berita sehingga ada anggapan merupakan pemberi informasi yang lebih baik daripada guru.
Pers merupakan medium penyiaran berita, seperti surat kabar, majalah, radio, televisi, dan film (KBBI, 2003:863). Sebagai medium penyiaran berita, pers menggunkan bahasa sebagai salah satu alat komunikasinya dan sebagai pers nasional, sesuai dengan konteks dan situasi komunikasi yang dihadapi bahasa Indonesialah yang menjadi alat untuk menyampaikan informasi.
Penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar di media massa belum dapat dikatakan memuaskan. Harus disadari bahwa bahasa Indonesia masih dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan. Banyak hal yang harus dikembangkan, terutama yang menyangkut peristilahan dan perbendaharaan kata. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan umumnya menyebabkan kita berkenalan dengan istilah asing baru yang tidak atau belum ada padananya dalam bahasa Indonesia. Keadaan tersebut menyebabkan kita terpaksa mengambilnya ke dalam bahasa Indonesia.
Pemakaiaan bahasa Indonesia yang belum dikatakan sempurna karena media massa pada surat kabar memiliki bahasa yang khas. Menurut Wojowasito dalam Suladi (2000:18) mendefinisikan bahasa Indonesia jurnalistik sebagai bahasa komunikasi massa yang digunakan dalam harian dan majalah-majalah. Hal-hal penting yang terdapat dalam bahasa jurnalistik adalah susunan kalimat harus logis dan pilihan katanya harus umum. Pengertian logis adalah informasi yang disampaikan dapat diterima pembacanya dan sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan, benar menurut pandangan dan masuk akal. Sedangkan pilihan katanya harus umum disebabkan karena berita yang dimuat dalam media massa menjadi konsumsi umum yaitu secara menyeluruh dibaca semua lapisan masyarakat mulai dari tingkat bawah sampai atas dengan berbagai macam latar belakang pendidikan dan profesi. Selain itu, Anwar dalam Suladi (2000:18) mengatakan bahwa bahasa jurnalistik harus
(1) singkat karena berkaitan dengan terbatasnya ruang yang disediakan, (2) padat karena memuat penuh berita dengan sejelas-jelasnya dengan mengumpulkan semua informasi tanpa bahasa yang bertele-tele, (3) sederhana karena bahasa yang digunakan dalam penyampaian informasi dapat dimengerti oleh berbagai macam kalangan masyarakat, (4) jelas dan logis karena berita yang dimuat benar-benar dapat dipahami ketika pertama kali dibaca tanpa pembaca perlu mengulang-ulang untuk menafsirkannya, (5) bahasanya harus menarik karena media massa menawarkan informasi tujuan tercapainya tingkat penjualan sehingga bahasa yang digunakan harus menarik agar diminati oleh para pembacanya.
Latar belakang hidup di dalam masyarakat bilingual dan multilingual membuat orang Indonesia mampu berbicara setidaknya dalam dua bahasa. Mereka dapat menggunakan paling tidak bahasa daerahnya (yang biasanya merupakan bahasa ibu) dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Karena pengaruh globalisasi dan masuknya budaya asing, saat ini bahkan banyak orang yang mampu berkomunikasi lebih dari satu bahasa. Penguasaan beberapa bahasa tersebut mendorong orang-orang menggunakan berbagai bahasa dalam situasi dan tujuan yang berbeda. Karena inilah fenomena campur kode (code mixing) tidak dapat dihindari. Hampir tidak mungkin bagi seorang pemakai bahasa dalam masyarakat bilingual dan masyarakat multilingual untuk menggunakan satu bahasa saja tanpa terpengaruh bahasa lain, meskipun hanya sejumlah kosa kata saja.
Campur kode merupakan akibat adanya kontak bahasa. “Penggunaan lebih dari satu bahasa atau kode dalam satu wacanan menurut pola-pola yang masih belum jelas”. (Nababan 1978:125). Campur kode dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti faktor lingkungan, kebiasaan pemakai bahasa, menggunakan bahasa asing atau daerah beserta variasinya, terbatasnya kosa kata dalam bahasa Indonesia, serta kurangnya kesadaran pemakai bahasa dalam menggunakan bahasa Indonesia.
Penelitian mengenai campur kode serta kosa kata asing dan media massa telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya yakni
1. Rizki. 2005. “Pemakaian Campur kode dan Alih Kode Pada Harian Serampi Indonesia” dalam Kekelpot Volume I. Dalam penelitian ini menggambarkan penggunaan campur kode dan alih kode pada media massa cetak di aceh.
2. Dian. 2008. “Alih Kode dan Campur Kode pada Pemakaian Bahasa oleh Penutur Bahasa Bugis”. Dalam penelitian tersebut memberikan gambaran tentang penggunaan alih kode dan campur kode pada penutur bahasa Bugis.
Kelas kata dalam bahasa yang diteliti, terdiri dari tiga jenis yaitu nomina, verba, dan adjektiva. Nomina adalah kata yang mengacu pada kata benda, verba adalah kata yang mengacu pada proses, perbuatan, atau keadaan yang bukan bersifat atau kualitas, sedangkan adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat. Kelas kata dalam penelitian ini berfungsi untuk mengetahui kedudukan kata yang akan diteliti. Penelitian ini juga bermanfaat sebagai bahan ajar pada materi kebahasaan, khususnya mengenai kajian sosiolinguistik dan morfologi, serta dapat digunakan sebagai bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya.
Berdasarkan beberapa penelitian tersebut, penelitian mengenai kajian sosiolinguistik terhadap campur kode perlu dikaji lebih lanjut. Kajian dalam penelitian ini adalah mengenai sosiolinguistik, khususnya mengenai campur kode. Sosiolinguistik adalah cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat pemakainya. Penelitian dilakukan akan dibatasi pada campur kode pada surat kabar “Pontianak Post” Kolom X-presi Edisi Bulan Nopember 2008.
Peneliti memilih surat kabar sebagai penelitian karena pada sumber penyebarannya, campur kode yang mewarnai masyarakat sangat terbantu (dipengaruhi) oleh media. Adapun surat kabar merupakan satu diantara yang sangat berperan besar dalam menumbuh kembangkan perilaku bercampur kode. Apalagi media yang satu ini memang mudah untuk diperoleh dan terjangkau hampir disemua kalangan masyarakat.
Kecenderungan pemilihan kata dengan bahasa asing dan penggunaan variasi bahasa menjadi salah satu faktor pembentuk perilaku percampuran bahasa. Hal ini dapat diperkuat dengan banyaknya penggunaan bahasa asing beserta variasi bahasa pada surat kabar yang disajikan. Tingginya frekuensi membaca di kalangan masyarakat akan mengakibatkan sikap bercampur kode di kalangan masyarakat semakin meningkat.
Sikap yang lebih mengedepankan kosakata asing, terus terang merupakan sikap yang tidak sesuai dengan semangat pembinaan berbahasa Indonesia. Pernyataan ini tidak berarti bahwa peneliti memusuhi kosakata asing. Sebab tidak dapat dipungkiri pula bahwa bahasa-bahasa asing sering kali menjadi pengaya bagi bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sendiri dalam perkembangannya telah diperkaya oleh bahasa Arab, Belanda, Cina, Latin, Inggris, Sanskerta, Jawa, dan lain-lain. Rasanya tidaklah pantas bila kita merendahkan bahasa yang sehari-harinya kita gunakan ini.
Umumnya, orang akan beranggapan bahwa upaya untuk memerhatikan perkembangan penggunaan bahasa Indonesia dilakukan hanya oleh para ahli bahasa. Pada tataran yang lebih tinggi, mungkin akan dilemparkan kepada para ahli yang bernaung pada Pusat Bahasa. Beban serupa juga dilemparkan ke pundak para mahasiswa maupun sarjana Sastra Indonesia yang mengambil bidang kajian linguistik.
Pandangan itu tidak sepenuhnya salah. Bekal pengetahuan formal yang telah mereka miliki selama ini jelas sangat membantu. Namun, bukan berarti semua itu diserahkan kepada mereka. Masyarakat luas sebagai pengguna bahasa Indonesia sebenarnya mempunyai tanggung jawab untuk peduli terhadap permasalahan bahasa Indonesia.
Mengingat banyaknya surat kabar yang terbit di kota Pontianak, maka yang menjadi pilihan peneliti adalah surat kabar “Pontianak Post”. Alasan peneliti memilih surat kabar “Pontianak Post” karena surat kabar tersebut merupakan surat kabar pertama yang terbit di Kalimantan Barat yaitu pada tanggal 2 pebruari 1973 dan merupakan satu diantara surat kabar yang diminati oleh masyarakat Kalimantan barat. Pemilihan kolom X-presi pada surat kabar Pontianak Post juga dianggap paling tepat untuk diteliti kerena sasaran pembaca kolom X-presi merupakan remaja muda dan sedang yang berkisar antara 12- 18 tahun, sedangkan situasi kebahasaan Indonesia sangat memprihatikan karena remaja-remaja lebih suka mencampur kode daripada mengunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bulan Nopember tahun 2008 menjadi pilihan peneliti karena menurut peneliti bulan tersebut merupakan waktu yang tepat untuk mengumpulkan sumber data secara utuh.
Penelitian campur kode dapat bermanfaat bagi pengajaran Bahasa Indonesia sebagai bahan penunjang dan perbandingan dalam mengajarkan materi pelajaran di sekolah dan mata kuliah sosiolinguistik di perguruan tinggi khususnya materi penggunaan istilah asing.
1.2 Masalah Penelitian
Masalah umum dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Campur Kode dalam Surat Kabar Pontianak Post Kolom X-presi Edisi Bulan Nopember 2008?”. Masalah umum tersebut dibatasi menjadi sub masalah sebagai berikut:
- Bagaimanakah jenis campur kode yang digunakan dalam Surat Kabar “Pontianak Post” Kolom x-presi Edisi Bulan Nopember 2008?
- Bagaimanakah campur kode ke dalam( inner code mixing )
dalam Surat Kabar Pontianak Post Kolom X-presi Edisi Bulan Nopember 2008?
- Bagaimanakah campur kode ke luar( outer code mixing ) dalam Surat Kabar Pontianak Post Kolom X-presi Edisi Bulan Nopember 2008?
- Bagaimanakah kelas kata dalam campur kode pada Surat Kabar Pontianak Post Kolom X-presi Edisi Bulan Nopember 2008?
- Bagaimanakah latar belakang munculnya campur kode dalam Surat Kabar Pontianak Post Kolom X-presi Edisi Bulan Nopember 2008 ?
1.3 Ruang Lingkup Masalah Penelitian
Penelitian perlu ruang lingkup agar lebih terarah dalam mengumpulkan data, sehingga penelitian ini lebih terarah. Ruang lingkup penelitian ini hanya meneliti surat kabar Pontianak Post kolom X-presi edisi bulan Nopember 2008. Selain itu pembagian kelas kata hanya mencakup nomina, verba, adjektiva, dan kata tugas.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan campur kode dalam Surat Kabar Pontianak Post Kolom X-presi Edisi Bulan Nopember 2008. Tujuan umum tersebut dijabarkan menjadi tujuan khusus sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan jenis campur kode yang digunakan dalam Surat Kabar Pontianak Post Kolom X-presi Edisi Bulan Nopember 2008.
2. Mendeskripsikan kelas kata dalam campur kode pada Surat Kabar Pontianak Post Kolom X-presi Edisi Bulan Nopember 2008.
3. Mendeskipsikan latar belakang munculnya campur kode dalam Surat Kabar Pontianak Post Kolom X-presi Edisi Bulan Nopember 2008.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:
1.Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan pemahaman peneliti mengenai teori campur kode dan kelas kata.
2.Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pemerintah dan lembaga bahasa sebagai upaya pembinaan dan pengembangan bahasa, terutama sebagai usaha pembinaan bahasa Indonesia dalam media cetak.
3.Penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada pihak penerbit surat kabar Pontianak Post dalam penulisan, agar sesuai dengan pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia.
4.Secara praktis hasil penelitian ini bermanfaat untuk memberi informasi pengetahuan bagi pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahan penunjang dan perbandingan dalam mengajarkan materi pelajaran di sekolah dan mata kuliah sosiolinguistik di perguruan tinggi khusunya materi penggunaan istilah asing.
5.Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya yang relevan dengan penelitian ini.
1.6 Penjelasan Istilah
Penjelasan istilah dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman dalam menafsirkan istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini. Istilah-istilah yang perlu dijelaskan sebagai berikut:
1. Campur Kode
Campur kode adalah pemakaian bahasa yang satu dengan bahasa yang lain dengan saling memasukkan atau menyelipkan unsur-unsur bahasa yang satu dalam bahasa yang lain secara konsisten (Nababan, 1997:125).
2. Surat Kabar Pontianak Post kolom X-presi
Surat kabar Pontianak Post kolom X-presi adalah tulisan pada lembaran-lembaran kertas dengan ukuran tertentu yang berisi berita, informasi, dan pendidikan seputar dunia remaja dengan bahasa yang disesuaikan oleh remaja dan terbit secara berkesinambungan.
Berdasarkan penjelasan istilah tersebut, penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Campur Kode dalam Surat Kabar Pontianak Post Kolom X-presi Edisi Bulan Nopember 2008 adalah penggunaan lebih dari satu bahasa atau kode dalam tulisan yang berisi berita, informasi, dan pendidikan seputar dunia remaja dengan bahasa yang disesuaikan oleh remaja dan terbit secara berkesinambungan pada bulan Nopember 2008.
Posted by , Published at Minggu, Mei 16, 2010 and have